Sabtu, 27 JUNI 2026 • 10:56 WIB

Gajah Indra Tutup Usia Setelah 30 Tahun Mengabdi untuk Konservasi Way Kambas

Author

Ilustrasi gajah di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. (Diskominfotik Lampung)

LAMPUNG - Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kementerian Kehutanan, menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Gajah Indra, gajah jinak jantan berusia 42 tahun yang selama lebih dari tiga dekade menjadi bagian penting dalam upaya konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Provinsi Lampung.

Gajah Indra mengembuskan napas terakhir pada Senin (22/6/2026) pukul 11.06 WIB setelah menjalani perawatan intensif akibat kondisi kesehatan yang terus menurun.

Tiga Dekade Mengabdi untuk Konservasi

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, mengatakan kepergian Gajah Indra merupakan kehilangan besar bagi dunia konservasi Indonesia.

"Gajah Indra bukan hanya satwa binaan, tetapi bagian dari sejarah panjang konservasi Gajah Sumatera di Way Kambas. Dedikasinya dalam berbagai kegiatan lapangan dan penanganan konflik satwa liar telah memberikan kontribusi nyata. Kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya," ujar Zaidi.

Baca juga: Mengenal Taman Nasional Way Kambas, Pusat Konservasi Gajah Sumatera

Gajah Indra berasal dari Desa Karang Sari, Kabupaten Lampung Timur, dan bergabung dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) Way Kambas pada 1995.

Selama bertugas, Indra dikenal sebagai gajah yang tangguh dan berani. Ia terlibat dalam berbagai operasi penting, mulai dari evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, hingga mitigasi konflik antara manusia dan gajah di sejumlah wilayah Lampung.

Dedikasinya membuat Indra dihormati para mahout, dokter hewan, perawat satwa, hingga pegiat konservasi.

Cedera Akibat Kecelakaan Sejak 2017

Gajah Indra, gajah jinak jantan berusia 42 tahun. (Kementerian Kehutanan)

Kondisi kesehatan Gajah Indra mulai menurun setelah mengalami kecelakaan pada akhir 2017.

Saat itu, Indra baru kembali dari membantu penanganan konflik satwa liar di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kendaraan pengangkut yang membawanya mengalami kecelakaan lalu lintas hingga menyebabkan dugaan cedera serius pada ruas tulang belakang.

Sejak insiden tersebut, Indra dipensiunkan dari tugas lapangan. Tim dokter hewan dan perawat satwa terus memberikan terapi, perawatan intensif, serta pemantauan kesehatan setiap hari untuk menjaga kualitas hidupnya.

Bertahan Lebih dari 20 Jam Sebelum Meninggal

Pada Minggu (21/6/2026) sore, Gajah Indra menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa.

Namun saat hendak kembali menuju kandang, Indra tiba-tiba ambruk di lereng rawa dan tidak mampu berdiri.

Mahout pendamping bersama tim rescue segera melakukan upaya penyelamatan dengan bantuan beberapa gajah jinak lainnya. Indra sempat berhasil diposisikan duduk, tetapi kondisi fisiknya yang semakin lemah membuatnya kembali rebah.

Karena lokasi berada di area rawa dan tidak memungkinkan dilakukan evakuasi ke fasilitas medis utama, tim dokter hewan memberikan penanganan intensif langsung di lokasi.

Setelah berjuang mempertahankan kondisi vitalnya selama lebih dari 20 jam, Gajah Indra akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Baca juga: Dari Gajah hingga Badak: Daftar Satwa Langka Khas Lampung yang Wajib Dilindungi

Nekropsi Dilakukan untuk Mengetahui Penyebab Kematian

Sebagai bagian dari prosedur medis, tim dokter hewan melakukan nekropsi atau bedah bangkai sekitar tiga jam setelah kematian.

Proses tersebut dipimpin drh. Diah Esty Nggraeni dari PLG TNWK bersama drh. Atma dari Sumatran Rhino Sanctuary dengan dukungan lima tenaga kesehatan hewan Rumah Sakit Gajah TNWK.

Untuk menjamin transparansi, nekropsi turut disaksikan unsur Polres Lampung Timur, Kodim 0429/Lampung Timur, serta Polisi Kehutanan TNWK.

Sejumlah sampel organ diambil untuk dianalisis di laboratorium guna mengetahui penyebab pasti kematian. Setelah seluruh pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Indra dimakamkan di kawasan khusus di dalam Taman Nasional Way Kambas.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Langkah Permanen Akhiri Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas

Warisan Besar bagi Konservasi Gajah Sumatera

Kepergian Gajah Indra menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian satwa liar Indonesia melalui kolaborasi berbagai pihak.

Balai Taman Nasional Way Kambas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat upaya konservasi Gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, mitigasi konflik manusia dan satwa liar, peningkatan layanan kesehatan satwa, serta penguatan kesejahteraan gajah-gajah binaan di bawah pengelolaan negara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU