Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 26 JULI 2026 • 21:19 WIB

Itera dan ITB Kembangkan Bioetanol dari Limbah Tapioka

Itera dan ITB Kembangkan Bioetanol dari Limbah TapiokaKolaborasi Itera dan ITB kembangkan bioetanol dari limbah tapioka. (Itera Lampung)

LAMPUNG - Limbah tapioka atau onggok yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak berpotensi menjadi sumber energi terbarukan bernilai tinggi. Potensi tersebut dipaparkan Institut Teknologi Sumatera (Itera) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui pengembangan bioetanol berbasis limbah agroindustri untuk mendukung kemandirian energi nasional.

Inovasi tersebut dipresentasikan dalam Upskilling Session yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) di InterContinental Hotel Dago Pakar, Bandung, Jumat (24/7/2026) lalu.

Kegiatan ini menjadi forum berbagi pengetahuan mengenai pengembangan biofuel dalam mendukung strategi Building Low Carbon Businesses yang diusung Pertamina.

Itera diwakili Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat dan Kemitraan Strategis LPPM Itera, Abdul Rozak Kodarif, bersama Prof. Yazid Bindar dan Ir. Elvi Restiawaty, dari ITB yang tergabung dalam tim pengembangan bioetanol berbasis ampas tapioka di Lampung.

Tim tersebut hadir memenuhi undangan PT Pertamina (Persero) untuk memaparkan hasil riset sekaligus pengalaman pengembangan bioetanol berbasis onggok sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang potensial dikembangkan di Indonesia.

Baca juga: Bappenas Dukung Lampung Bangun Kawasan Industri Pangan

Onggok Lampung Berpotensi Jadi Energi Terbarukan

Dalam paparannya, tim menjelaskan bahwa Provinsi Lampung sebagai sentra produksi singkong nasional menghasilkan limbah tapioka dalam jumlah besar setiap tahunnya.

Selama ini, onggok lebih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Melalui teknologi biokonversi, limbah tersebut dapat diolah menjadi bioetanol bernilai tambah sekaligus mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Gunakan Teknologi Biokonversi

Tim juga memaparkan tahapan produksi bioetanol yang meliputi proses pretreatment, sakarifikasi, fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae, hingga proses distilasi.

Selain itu, pendekatan Simultaneous Saccharification and Fermentation (SSF) dinilai mampu meningkatkan efisiensi proses produksi bioetanol.

Konsep integrasi antara industri tapioka, fasilitas produksi bioetanol, serta pemanfaatan residu menjadi biogas juga diperkenalkan sebagai bagian dari sistem produksi yang lebih berkelanjutan.

Baca juga: Itera dan Pringsewu Kembangkan Tepung Mocaf Berbasis Riset

Dorong Hilirisasi Industri Berbasis Singkong

Dari sisi implementasi industri, tim memperkenalkan model rantai pasok berbasis klaster yang menghubungkan sentra industri tapioka dengan fasilitas produksi bioetanol.

Model tersebut diharapkan mampu menjaga pasokan bahan baku, meningkatkan efisiensi logistik, sekaligus mempercepat hilirisasi teknologi bioetanol berbasis singkong.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Itera dan ITB Kembangkan Bioetanol dari Limbah Tapioka

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!