LAMPUNG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan mulai menyiapkan Paperahan atau Sedekah Bumi di Desa Sumur Kumbang agar tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga berkembang sebagai ikon wisata budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan tanpa menghilangkan nilai sakral warisan leluhur.
Tradisi yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 31 Juli 2026 itu dipersiapkan sebagai wujud syukur atas hasil bumi sekaligus langkah memperkuat identitas budaya masyarakat di kaki Gunung Rajabasa.
Persiapan pelaksanaan dibahas dalam rapat koordinasi di Masjid Al-Ikhlas, Desa Sumur Kumbang, Kecamatan Kalianda, Selasa (28/7/2026).
Rapat dipimpin Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Kabupaten Lampung Selatan, Anasrullah, serta dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan I Nyoman Setiawan, Kepala Desa Sumur Kumbang Armad, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan panitia pelaksana.
Baca juga: Legenda Sumur Kumbang, Mata Air yang Tak Pernah Kering di Lereng Gunung Rajabasa
Mengusung tema "Amparan Syukur di Kaki Gunung Rajabasa", Paperahan tahun ini diharapkan berkembang menjadi agenda budaya unggulan Kabupaten Lampung Selatan.
Pemerintah daerah ingin menjadikan tradisi tersebut sebagai daya tarik wisata budaya dengan tetap menjaga keaslian dan nilai-nilai adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Dalam arahannya, Anasrullah mengatakan pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pengembangan sektor pariwisata.
"Kalau bisa dijadikan objek wisata. Ke depan bukan hanya sekadar menjalankan tradisi seperti biasa, tetapi dibuat lebih berwarna. Nilai sakralnya tetap ada, nilai jualnya juga ada. Dikemas agar masyarakat luar mengenal Paperahan. Namun, jangan sampai autentiknya hilang dan nilai aslinya memudar," ujar Anasrullah.
Baca juga: DAMRI Kembali Layani Rute Kalianda-Jakarta Mulai September 2026
Kepala Desa Sumur Kumbang, Armad, mengatakan pelaksanaan Sedekah Bumi tahun ini akan menghadirkan sejumlah prosesi baru untuk memperkuat nilai budaya sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat maupun tamu yang hadir.
Bupati Lampung Selatan direncanakan akan disambut melalui arak-arakan dari pintu masuk desa, kemudian dikalungi sarung dan dikenakan peci oleh tokoh adat atau pewaris budaya sebagai simbol penghormatan kepada pemimpin daerah sekaligus penghargaan terhadap tradisi lokal.
“Selanjutnya, rombongan akan disambut dengan hasil bumi masyarakat yang diarak dalam parade hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas keberkahan alam. Rangkaian kegiatan yang dimulai sejak pagi hari itu juga akan diisi dengan pembacaan sejarah Paperahan guna memperkenalkan asal-usul tradisi kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” ujarnya.
Baca juga: SMA Unggul Garuda Segera Hadir di Lampung Selatan? Ini Hasil Visitasi Kemdiktisaintek
Selain prosesi adat, kegiatan juga akan dirangkaikan dengan penanaman pohon sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian lingkungan di kawasan kaki Gunung Rajabasa.
Bibit pohon akan diserahkan Bupati kepada para sesepuh, kemudian diteruskan kepada anak-anak sebagai simbol estafet tanggung jawab menjaga alam kepada generasi penerus.
Melalui berbagai inovasi tersebut, Pemkab Lampung Selatan berharap Paperahan atau Sedekah Bumi tidak hanya menjadi tradisi tahunan sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi, tetapi juga tumbuh menjadi ikon wisata budaya Kabupaten Lampung Selatan yang mampu menarik minat wisatawan sekaligus tetap menjaga nilai-nilai adat yang menjadi jati diri masyarakat Desa Sumur Kumbang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan