LAMPUNG - Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat langkah pengembangan energi hijau dan infrastruktur berkelanjutan melalui kerja sama strategis dengan perusahaan asal Malaysia Citaglobal Berhad.
Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) lalu diperkuat dengan Memorandum of Understanding (MoU).
Penandatanganan MoU dilakukan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Executive Chairman & President Citaglobal Berhad Tan Sri Dato' Sri Mohamad Norza Zakaria.
Kerja sama ini difokuskan pada penyusunan kajian pengembangan di bidang energi hijau dan pengelolaan limbah, yang meliputi Pengolahan Sampah Menjadi Energi (Waste to Energy) transformasi limbah menjadi sumber daya energi yang efisien, Biomassa Limbah Industri pemanfaatan limbah industri sebagai bahan baku energi alternatif dan Proyek Tenaga Surya pengembangan potensi energi matahari di wilayah Provinsi Lampung.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas sejumlah peluang investasi strategis, mulai dari pengembangan energi terbarukan, pengolahan sampah menjadi energi, biomassa, hingga pembangunan kawasan industri dan infrastruktur penunjang ekonomi baru di Lampung.
“Ke depan fokus kami di Provinsi Lampung memang akan mengarah pada energi, terutama energi terbarukan,” ujar Mirza dilansir dari laman resmi Pemprov Lampung, Jumat, 15 Mei 2026.
Baca juga: Sampah di Lampung Bakal Jadi Energi Listrik, Pembangunan PSEL Ditarget Mulai November 2026
Menurutnya, Lampung memiliki potensi besar untuk pengembangan energi hijau. Pemerintah Provinsi Lampung mencatat sedikitnya terdapat tiga bendungan yang dinilai layak dikembangkan menjadi proyek floating solar panel dengan kapasitas mencapai 150 hingga 200 megawatt per bendungan.
Selain itu, Mirza mengungkapkan Lampung juga memiliki potensi biomassa yang besar karena ditopang sektor pertanian dan perkebunan. Ia menilai limbah pertanian seperti jagung, singkong, padi, hingga tebu dapat diolah menjadi biochar maupun sumber energi alternatif lainnya.
“Lampung ini punya sekitar 1,3 juta hektar potensi biomassa. Ada padi, jagung, singkong, nanas, bagas tebu, dan lainnya,” ujarnya.
Tak hanya energi baru terbarukan, Pemprov Lampung juga menawarkan peluang pengembangan proyek Waste to Energy (WtE). Pemerintah pusat sebelumnya telah menunjuk Lampung sebagai salah satu daerah yang didorong untuk mengembangkan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Mirza mengatakan volume sampah di Lampung terus meningkat dan membutuhkan solusi jangka panjang yang terintegrasi. “Untuk energi dari sampah juga bisa dikembangkan di sini karena pertumbuhan sampahnya masih tinggi,” ungkapnya.
Selain energi, pembahasan juga mencakup peluang pengembangan kawasan industri baru di Lampung. Mirza mengatakan posisi Lampung yang dekat dengan Jakarta serta memiliki pelabuhan laut dinilai strategis untuk mendukung hilirisasi komoditas dari wilayah Sumatera bagian selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan