LAMPUNG - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong peningkatan produktivitas kopi melalui penerapan Pupuk Hayati Cair (PHC) yang diklaim mampu mempercepat masa produksi tanaman dari sekitar tiga tahun menjadi hanya 1,5 hingga dua tahun.
Inovasi tersebut diperkenalkan saat Gubernur meninjau Kebun Induk Hanakau milik UPTD Balai Benih dan Kebun Induk (BBKI) Dinas Perkebunan Provinsi Lampung di Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat, Kamis (9/7/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin beserta jajaran Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Rombongan meninjau langsung kebun yang menjadi pusat percontohan, penelitian, dan pengembangan benih kopi unggul di Provinsi Lampung.
Baca juga: Kampung Kopi Rigis Jaya: Wisata Edukasi Kopi di Lampung Barat
Saat berdialog dengan para petani, Gubernur memperkenalkan PHC, pupuk organik berbasis mikroorganisme lokal yang diproduksi dari bahan ramah lingkungan seperti limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras.
Menurutnya, penggunaan PHC mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih hijau, mempercepat pembungaan, memperbesar ukuran buah, serta memperbaiki kesuburan tanah sehingga penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi.
Sebagai bentuk dukungan, Gubernur juga menyerahkan sampel PHC kepada petani agar dapat langsung diuji coba di lahan masing-masing.
Penerapan PHC di Kebun Induk Hanakau telah dilakukan sejak 2025 pada lahan percontohan seluas dua hektare. Hasil uji coba menunjukkan peningkatan pertumbuhan tanaman dibandingkan lahan yang tidak menggunakan PHC.
Salah satu hasil yang paling menonjol adalah percepatan masa produksi tanaman kopi. Bibit yang umumnya mulai berbuah setelah tiga tahun kini mampu menghasilkan buah pada usia 1,5 hingga dua tahun.
"Buah kopi terlihat lebih besar, kualitasnya lebih baik, serta pertumbuhan tanaman lebih optimal," ujar Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.
Baca juga: Itera Siap Dampingi Lampung Barat Kembangkan Program Sekolah Kopi Berbasis Teknologi
Kebun Induk Hanakau merupakan salah satu sentra pengembangan kopi di Lampung yang menerapkan berbagai metode budidaya modern dan teknik perawatan tanaman untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kualitas hasil panen.
Di kawasan tersebut dikembangkan dua jenis kopi utama, yakni robusta dan arabika. Untuk robusta, tersedia sejumlah klon unggul nasional seperti BP 939, BP 936, BP 534, dan BP 436 sebagai sumber benih berkualitas. Selain itu, kebun ini juga mengembangkan klon lokal potensial, seperti Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, dan Tugu Sari yang dipersiapkan menjadi varietas unggul bersertifikat.
Sementara itu, sekitar 200 batang kopi arabika ditanam sebagai bagian dari uji adaptasi di kawasan dataran tinggi Sukau.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan