Pementasan tari "Decoreous Tradition Part 5. (Unila)
LAMPUNG - Tradisi tak harus berhenti di masa lalu. Melalui gerak tari yang dikemas kreatif, mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) membuktikan budaya Lampung tetap bisa hidup, berkembang, dan dekat dengan generasi muda.
Semangat tersebut diwujudkan dalam pementasan tari "Decoreous Tradition Part 5" yang digelar di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, beberapa waktu lalu. Mengusung tema "Tradition in Motion", pertunjukan ini mengajak masyarakat melihat bahwa tradisi dapat terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Pementasan tersebut merupakan luaran mata kuliah Koreografi Tradisi mahasiswa semester empat Pendidikan Tari Unila sebagai implementasi pembelajaran berbasis penciptaan karya tari melalui proses eksplorasi.
Baca juga: Dari Adat Betawi hingga Tari Kecak Bali, Mahasiswa PPKn Unila Sajikan 9 Budaya dalam Satu Panggung
Pementasan tari "Decoreous Tradition Part 5. (Unila)
Nama Decoreous Tradition Part 5 menjadi penanda penyelenggaraan kelima mata kuliah Koreografi Tradisi yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak angkatan 2020.
Dalam pementasan tersebut, mahasiswa menampilkan sembilan karya tari dengan beragam konsep yang berakar pada tradisi dan budaya, sekaligus menghadirkan interpretasi baru yang tetap menghormati nilai-nilai budaya lokal.
"Melalui pementasan ini kami ingin mengenalkan sekaligus meneruskan informasi mengenai tradisi melalui gerak tari, sehingga masyarakat dapat lebih mengenal budaya dan tradisi yang ada di Lampung," ujar perwakilan mahasiswa Pendidikan Tari.
Baca juga: Mahasiswa Pendidikan Tari Unila Hadirkan Koreografi “Kemplora”, Angkat Narasi Pembuatan Kemplang
Pementasan tari "Decoreous Tradition Part 5. (Unila)
Pementasan melibatkan 59 mahasiswa sebagai penari, sementara sekitar 65 orang tergabung dalam tim produksi yang terdiri atas mahasiswa lintas angkatan dan alumni.
Persiapan pertunjukan berlangsung hampir satu bulan. Selama proses tersebut, mahasiswa harus membagi waktu antara latihan dengan aktivitas akademik.
Meski menghadapi berbagai tantangan, seluruh rangkaian persiapan dapat berjalan berkat komunikasi yang baik, kekompakan, serta solidaritas antarmahasiswa.
Baca juga: 1.500 Penari Pecahkan Rekor Dunia MURI, Tari Tuping Lampung Selatan Catat Sejarah Dunia
Pementasan tari "Decoreous Tradition Part 5. (Unila)
Selain menjadi bagian dari proses pembelajaran, pementasan ini juga memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam menciptakan karya tari, mengelola sebuah pertunjukan secara profesional, hingga bekerja dalam tim produksi berskala besar.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengasah kreativitas sebagai calon seniman dan pendidik, tetapi juga berperan aktif memperkenalkan serta melestarikan tradisi dan budaya Lampung kepada masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan