Ilustrasi inflasi. (Pexels/Monstera Product)
LAMPUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan inflasi pada April 2026 tetap terkendali. Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), Provinsi Lampung mengalami inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,55 persen, lebih rendah dibandingkan April tahun sebelumnya yang mencapai 1,19 persen.
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa, mengatakan secara kelompok pengeluaran, inflasi tertinggi terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,98 persen.
“Kelompok ini juga menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum dengan andil sebesar 0,34 persen,” kata dia dalam rilis BPS, Selasa, 5 Mei 2026.
Sementara itu, kata Sabiel, deflasi tercatat pada kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,05 persen, meski kontribusinya relatif kecil terhadap inflasi keseluruhan.
Baca juga: Neraca Dagang Lampung Maret 2026 Surplus US$263 Juta, Meski Ekspor dan Impor Alami Penurunan
Dari sisi komoditas, minyak goreng menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,09 persen, disusul ikan nila sebesar 0,04 persen. Selain itu, sigaret kretek mesin, beras, dan cabai merah masing-masing memberikan andil sebesar 0,03 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi, di antaranya cabai merah dengan andil deflasi hingga minus 0,06 persen, emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan antarkota, serta cumi-cumi.
“Secara tahunan (year-on-year), Provinsi Lampung mencatat inflasi sebesar 0,53 persen pada April 2026. Angka ini juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 2,80 persen,” jelasnya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,07 persen. Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,58 persen.
Baca juga: Gak Perlu Khawatir Lupa Perpanjang SIM, Polresta Bandar Lampung Kini Punya Layanan WAR Janji Jaga
Sebaliknya, kelompok pendidikan mengalami deflasi terdalam secara tahunan sebesar 17,97 persen, dengan andil deflasi mencapai 1,18 persen.
“Secara komoditas, penyumbang utama inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, beras, sigaret kretek mesin, dan minyak goreng. Sementara itu, komoditas seperti biaya pendidikan tingkat SMA dan SMP, bawang putih, bawang merah, serta cabai merah berperan dalam menahan inflasi,” ungkapnya.
BPS juga mencatat perkembangan inflasi di empat kabupaten/kota cakupan IHK. Kabupaten Mesuji mengalami inflasi tahunan tertinggi sebesar 1,35 persen, sedangkan terendah terjadi di Kota Bandar Lampung sebesar 0,33 persen. Untuk inflasi bulanan, Mesuji kembali mencatat angka tertinggi sebesar 0,77 persen, sementara Kota Metro menjadi yang terendah dengan 0,17 persen.
Secara keseluruhan, kondisi inflasi di Provinsi Lampung pada April 2026 menunjukkan tekanan harga yang tetap terkendali, baik secara bulanan maupun tahunan, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebagai faktor utama penggerak inflasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan