LAMPUNG - Pemerintah Provinsi Lampung bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Lampung melakukan pemusnahan barang bukti narkotika hasil sitaan BNNP Lampung.
Barang bukti yang dimusnahkan yakni 11.324,99 gram sabu, 870 gram ganja, serta 14 butir ekstasi.
Kegiatan Pemusnahan tersebut berlangsung di Lapangan Panggung Satuan Polisi Pamong Praja Pemprov Lampung, Komplek Kantor Gubernur Lampung, Bandar Lampung, Selasa (18/11/2025).
Sebelum dilakukan pemusnahan, barang bukti narkoba diuji keasliannya menggunakan dua alat, yakni Narcotest dan TruNarc, oleh petugas pendamping dan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama jajaran Forkopimda
Barang bukti yang telah dipastikan positif kemudian dimusnahkan menggunakan alat incinerator. Proses pemusnahan dilakukan secara terbuka sebagai bentuk akuntabilitas dan komitmen pemerintah memberantas peredaran gelap narkoba di Lampung.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengatakan pemusnahan barang bukti narkotika ini merupakan bagian dari kerja keras dan kerja besar kita semua untuk menjaga masa depan bangsa.
"Kita semua memahami bahwa narkotika adalah ancaman serius. Zat ini merusak tubuh, mengacaukan akal, dan menjerat generasi muda dalam lingkaran gelap yang mematikan. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan tanpa batas, ancaman narkotika menjadi semakin dinamis. Karena itu, kewaspadaan masyarakat harus terus diperkuat," kata Mirza.
Dia menjelaskan, sekitar 71 persen masyarakat Lampung berada pada usia produktif, yakni 15–55 tahun berkisar 7 juta penduduk.
Jumlah penduduk usia Gen Z dan Gen Alpha di Lampung, berusia 15–40 tahun berkisar 3-4 juta penduduk. "Kelompok inilah yang menjadi sasaran empuk para pengedar narkotika," ujarnya.
Baca juga: PARFI Lampung Produksi Film Tentang Edukasi Bahaya Narkoba
Di sisi lain, bonus demografi ini justru merupakan peluang besar bagi Lampung untuk tumbuh lebih pesat.
Pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota terus berupaya meningkatkan kualitas anak muda melalui program makan bergizi gratis, pembukaan lapangan pekerjaan, penguatan sektor pertanian, dan Hilirisasi terus didorong.
"Semua ini bertujuan meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan. Namun pada akhirnya, keberhasilan itu bergantung pada kualitas dan daya saing sumber daya manusia. Dan salah satu hambatan terbesar dalam meningkatkan kualitas SDM Indonesia adalah narkoba," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan