LAMPUNG - Tumpukan sampah organik rumah tangga yang selama ini menjadi persoalan di Kelurahan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, kini mulai diatasi melalui inovasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Institut Teknologi Sumatera (Itera).
Mereka membangun Pojok Kompos, sebuah pusat edukasi sekaligus pengolahan sampah organik berbasis masyarakat yang mengubah limbah dapur menjadi pupuk bermanfaat.
Program tersebut menjadi implementasi komitmen Itera sebagai Kampus Berdampak, dengan menghadirkan solusi nyata terhadap persoalan lingkungan melalui penerapan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui KKN Tematik Periode XVII Tahun 2026, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah, tetapi juga membangun sistem yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah program berakhir.
Kelurahan Trimurjo dipilih karena masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah organik yang belum optimal. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) dan berdampak pada kualitas lingkungan.
Baca juga: Saat Mahasiswa Itera Menyatukan Cerita Budaya Lewat Festival Film Internasional
Pojok Kompos Jadi Pusat Edukasi dan Pengolahan Sampah
Ketua Kelompok KKN Tematik Kelurahan Trimurjo, Rudolfo Alonso Suwo, menjelaskan melalui Pojok Kompos, masyarakat mendapatkan pelatihan mengenai pemilahan sampah, proses pengomposan, hingga pemanfaatan kompos menggunakan metode sederhana yang mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga.
Kompos yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk kebun Kelompok Wanita Tani (KWT), sehingga mendukung pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman.
"Kami tidak hanya membangun Pojok Kompos, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kompos dimanfaatkan untuk kebun KWT, hasil panennya kembali kepada masyarakat," ujar Rudolfo Alonso Suwo.
Baca juga: Lampung Siapkan Transformasi Sampah Jadi Energi, Gandeng GGGI dan BoemiKita
Bangun Siklus Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Program ini dirancang membentuk siklus pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Hasil panen dari kebun KWT dimanfaatkan dan dibagikan kepada masyarakat. Sementara itu, sisa sayuran dan limbah dapur kembali diolah menjadi kompos sehingga terus menghasilkan manfaat bagi lingkungan.
Untuk mengurangi volume sampah residu yang tidak dapat didaur ulang, tim KKN juga menyediakan insinerator sebagai pelengkap sistem pengelolaan sampah di Trimurjo.
Rudolfo menegaskan seluruh program saling terintegrasi untuk menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
"Kami tidak hanya membangun Pojok Kompos, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Kompos dimanfaatkan untuk kebun KWT, hasil panennya kembali kepada masyarakat, sementara edukasi melalui Eco Kids dan papan informasi diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini. Dengan demikian, setiap program saling mendukung untuk menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Trimurjo," ujarnya.
Edukasi Lingkungan Dimulai Sejak Anak-anak
Selain membangun fasilitas pengolahan sampah, mahasiswa KKN Tematik Itera juga menjalankan program Eco Kids yang mengajak anak-anak mengenal pentingnya memilah sampah dan menjaga kebersihan lingkungan melalui berbagai kegiatan interaktif.
Edukasi tersebut diperkuat dengan pemasangan papan informasi di sejumlah titik strategis sebagai panduan pengelolaan sampah organik sehingga manfaat program dapat terus dirasakan masyarakat meski masa KKN telah selesai.
Baca juga: Ubah Sampah Jadi Rupiah, Ini Daftar Lokasi Bank Sampah di Lampung
Kolaborasi Bersama Masyarakat
Program KKN Tematik di Kelurahan Trimurjo dilaksanakan di bawah bimbingan Dr. Rifky Fauzi, S.Si., M.Si., sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Pelaksanaannya melibatkan Pemerintah Kelurahan Trimurjo, Kelompok Wanita Tani (KWT), serta masyarakat setempat.
Melalui kolaborasi tersebut, Pojok Kompos diharapkan menjadi model pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan sekaligus menunjukkan bagaimana inovasi mahasiswa dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan