LAMPUNG - Pemerintah Provinsi Lampung terus mencari solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat kolaborasi dengan Yayasan Boemi dan Kita (BoemiKita) serta Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia untuk mendorong pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dan teknologi ramah lingkungan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela dengan perwakilan BoemiKita dan GGGI Indonesia di Ruang Kerja Wakil Gubernur, Bandar Lampung, Senin (22/6/2026).
Pertemuan tersebut membahas sinergi reaktivasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) terintegrasi sebagai upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Provinsi Lampung.
Baca juga: Lampung Jadi Pilot Project Pengolahan Sampah Modern Berbasis Energi
Lampung Kejar Target Waste to Energy 2029
Dalam pertemuan itu, Jihan menyatakan persoalan sampah di Lampung sudah berada pada tahap yang memerlukan penanganan serius dan menyeluruh. Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan solusi yang berdampak nyata.
"Persoalan sampah di Lampung sangat besar, keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Yang ingin saya garis bawahi, cita-cita kita adalah mewujudkan waste to energy pada 2029. Kami sangat terbuka karena membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk mengelola sampah agar menjadi peluang yang bernilai," ujar Jihan.
Menurutnya, pengelolaan sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Baca juga: Ubah Sampah Jadi Rupiah, Ini Daftar Lokasi Bank Sampah di Lampung
Reaktivasi TPS3R Jadi Langkah Strategis
Jihan menjelaskan meskipun pengelolaan sampah merupakan kewenangan pemerintah kabupaten dan kota, Pemerintah Provinsi Lampung tetap dapat berperan melalui berbagai program pendampingan dan penguatan kebijakan.
Salah satu langkah yang menjadi fokus adalah reaktivasi TPS3R yang selama ini belum beroperasi optimal. Banyak fasilitas pengolahan sampah yang telah dibangun namun belum berjalan maksimal karena minimnya pendampingan kepada masyarakat dan pengelola di lapangan.
Melalui kolaborasi dengan BoemiKita dan GGGI Indonesia, TPS3R diharapkan dapat kembali berfungsi sebagai pusat pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus mendukung penyerapan sampah anorganik secara berkelanjutan.
Baca juga: Sampah di Lampung Bakal Jadi Energi Listrik, Pembangunan PSEL Ditarget Mulai November 2026
Kolaborasi Dorong Ekonomi Sirkular
Kerja sama yang dibahas dalam pertemuan tersebut melibatkan berbagai pihak dengan peran masing-masing. GGGI Indonesia akan bertindak sebagai delivery partner, Indonesia Investment Exchange (IIX) sebagai advisor, Bappenas sebagai host agency, Pemerintah Provinsi Lampung sebagai regulator, operator lokal sebagai pelaksana lapangan, serta BoemiKita sebagai pendamping operasional.
Skema kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Lampung.
Selain mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), program ini juga berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), memperpanjang usia layanan TPA, serta menjadikan Lampung sebagai salah satu daerah percontohan pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia.
Edukasi Masyarakat Jadi Kunci Keberhasilan
Selain penguatan infrastruktur dan teknologi, Jihan menilai edukasi masyarakat tetap menjadi faktor penting dalam menyelesaikan persoalan sampah dari hulu.
Menurutnya, rendahnya kesadaran masyarakat terkait pemilahan dan pengelolaan sampah menjadi salah satu penyebab banyak fasilitas TPS3R belum dimanfaatkan secara maksimal.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung berharap kehadiran BoemiKita yang selama ini aktif dalam edukasi lingkungan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang benar.
Baca juga: Kementerian Lingkungan Hidup Dampingi Lampung Atasi Persoalan Sampah
Pemprov Lampung Perluas Kerja Sama Pengelolaan Sampah
Jihan juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan Danantara dalam pengembangan pengelolaan sampah yang saat ini mencakup Kota Bandar Lampung, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Lampung Timur.
Ke depan, program serupa diharapkan dapat diperluas ke 12 kabupaten dan kota lainnya sehingga pengelolaan sampah modern dapat diterapkan secara lebih merata di seluruh wilayah Lampung.
Ia menambahkan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memberikan perhatian khusus terhadap target pengembangan waste to energy tahun 2029 yang sejalan dengan arahan pemerintah pusat.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, Pemerintah Provinsi Lampung optimistis dapat mempercepat transformasi pengelolaan sampah menjadi sumber energi dan nilai ekonomi, sekaligus mewujudkan Lampung yang lebih bersih, hijau, dan berdaya saing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan