LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat membuka kegiatan Training of Trainer (ToT) Investigasi Terkoordinasi Kasus Flu Burung Menggunakan Joint Outbreak Investigation (JOIN) Tool Provinsi Lampung Tahun 2026 di Hotel Swiss-Belhotel Bandar Lampung, Senin (22/6/2026).
Menurut Jihan, pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bahwa kedaruratan kesehatan masyarakat tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga memengaruhi perekonomian, pendidikan, mobilitas masyarakat, ketahanan sosial, hingga kapasitas fiskal pemerintah.
“Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa kecepatan sangat menentukan, data sangat menentukan, dan koordinasi sangat menentukan keberhasilan pengendalian wabah. Keterlambatan deteksi kasus, informasi yang terfragmentasi, dan respons yang tidak terkoordinasi dapat memperpanjang dampak krisis,” ujarnya.
Baca juga: Ketimpangan Gender Lampung Turun, IKG 2025 Capai 0,375, Didorong Perbaikan Kesehatan Reproduksi
Flu Burung Jadi Ancaman yang Perlu Diwaspadai
Jihan menyatakan flu burung bukan sekadar persoalan kesehatan hewan, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama. Karena itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan harus diterapkan secara nyata.
Menurutnya, ketika muncul sinyal risiko pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara cepat dan terpadu guna mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas.
“Ketika sinyal risiko muncul pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara terpadu dan cepat. Karena itu, koordinasi menjadi kunci dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian,” katanya.
JOIN Tool Perkuat Investigasi dan Respons Wabah
Wagub menjelaskan investigasi wabah harus mencakup penelusuran epidemiologis, pengambilan dan pemeriksaan spesimen, identifikasi faktor risiko, komunikasi risiko kepada masyarakat, hingga pengambilan keputusan berbasis bukti.
Seluruh proses tersebut, lanjutnya, membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor peternakan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga: Dua Pelajar Lampung Lolos Jadi Calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026
Menurut Jihan, JOIN Tool menjadi instrumen penting dalam memperkuat investigasi terkoordinasi karena mampu membangun pemahaman situasi yang sama di antara berbagai sektor.
Data yang terkumpul tidak boleh berhenti sebagai laporan sektoral, tetapi harus menjadi dasar respons bersama yang cepat, tepat, dan akuntabel.
Lampung Dinilai Strategis dalam Pengendalian Zoonosis
Jihan menilai Lampung memiliki posisi strategis dalam penguatan kewaspadaan zoonosis. Selain memiliki aktivitas peternakan yang tinggi, Lampung juga menjadi salah satu daerah pemasok ternak dan produk peternakan dengan mobilitas manusia maupun barang yang cukup intensif.
“Provinsi Lampung memiliki aktivitas peternakan, perdagangan, dan konektivitas antarwilayah yang tinggi. Karena itu, kapasitas deteksi dini dan respons terhadap penyakit zoonosis harus terus diperkuat,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi yang terbangun antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor peternakan, dan lembaga internasional dapat semakin memperkuat kapasitas daerah dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons ancaman zoonosis.
CDC Dorong Penguatan Investigasi Terpadu
Direktur Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Rebecca D. Merrill, mengatakan influenza burung dan berbagai penyakit zoonosis lainnya masih menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan masyarakat di Indonesia maupun kawasan regional.
Menurut Rebecca, pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai investigasi wabah lintas sektor, meningkatkan keterampilan penggunaan JOIN Tool, sekaligus mempersiapkan peserta menjadi pelatih di daerah masing-masing.
Ia berharap integrasi data dan analisis lintas sektor yang diperkuat melalui pelatihan tersebut dapat meningkatkan kemampuan daerah dalam mendeteksi, mencegah, dan mengendalikan ancaman zoonosis secara lebih efektif.
Baca juga: Info Lengkap Dinas Sosial Lampung: Alamat, Kontak, dan Prosedur Bantuan
Menutup sambutannya, Jihan mengingatkan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sebelum krisis terjadi. Ia meminta seluruh peserta menjadi penggerak di wilayah masing-masing dengan menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada rekan kerja, peternak, serta pemangku kepentingan terkait.
“Kesiapsiagaan dibangun ketika krisis belum terjadi, bukan saat krisis datang. Pelatihan, simulasi, surveilans, pertukaran data, dan kepercayaan antar lembaga merupakan investasi penting bagi ketahanan kesehatan Provinsi Lampung,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: