Selasa, 05 MEI 2026 • 14:26 WIB

Nilai Tukar Petani Lampung April 2026 Turun 0,80%, Hortikultura Paling Terdampak

Author

Ilustrasi aktivitas petani di sawah. (Pexels/Heru Dharma)

LAMPUNG - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) pada April 2026 mengalami penurunan. NTP tercatat sebesar 123,93 atau turun 0,80 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, Muhammad Sabiel Adi Prakasa, mengatakan NTP merupakan indikator yang mengukur perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dari hasil produksi dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) untuk kebutuhan konsumsi dan produksi.

“Penurunan NTP pada April 2026 dipicu oleh melemahnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) menjadi 158,48. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru meningkat menjadi 127,88,” kata dia dalam rilis resmi BPS, Selasa, 5 Mei 2026.

Baca juga: Neraca Dagang Lampung Maret 2026 Surplus US$263 Juta, Meski Ekspor dan Impor Alami Penurunan

Menurutnya sejumlah komoditas tercatat menekan harga yang diterima petani, di antaranya cabai merah, kopi, dan udang payau. Di sisi lain, kenaikan harga yang dibayar petani didorong oleh komoditas seperti minyak goreng, bensin, bawang merah, dan gula pasir.

“Jika dilihat berdasarkan subsektor, penurunan NTP terutama berasal dari subsektor hortikultura yang turun sebesar 5,25 persen. Selain itu, subsektor tanaman perkebunan rakyat juga turun 1,69 persen, serta subsektor perikanan budidaya yang turun 1,55 persen,” jelasnya.

Baca juga: Inflasi Lampung April 2026 Terkendali di 0,55%, Turun Signifikan Dibanding April 2025

Meski demikian, beberapa subsektor masih mencatatkan kinerja positif. Subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan sebesar 0,68 persen, diikuti subsektor peternakan sebesar 0,70 persen, serta subsektor perikanan tangkap yang naik 0,23 persen.

“Secara keseluruhan, meskipun NTP mengalami penurunan pada April 2026, sebagian subsektor pertanian di Lampung masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik, terutama pada sektor tanaman pangan, peternakan, dan perikanan tangkap di tengah dinamika harga pada awal kuartal kedua tahun ini,” paparnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU