Ekspor Palm Kernel Expeller (PKE). (Karantina Lampung)
LAMPUNG – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung (Karantina Lampung) kembali mencatat hadirnya eksportir baru komoditas unggulan daerah. Sebanyak 14 ribu ton Palm Kernel Expeller (PKE) diberangkatkan ke Selandia Baru dengan nilai ekonomi mencapai Rp20 miliar setelah memenuhi seluruh persyaratan ekspor dan standar negara tujuan.
Ekspor tersebut menjadi sinyal positif bagi pengembangan komoditas perkebunan Lampung sekaligus memperkuat posisi pelaku usaha daerah di pasar internasional.
Kepala Balai Karantina Lampung, Donni Muksydayan, mengatakan bertambahnya eksportir baru menunjukkan semakin besarnya peluang komoditas perkebunan Lampung menembus pasar global.
"Ekspor ini menjadi bukti bahwa komoditas asal Lampung memiliki daya saing di pasar internasional. Karantina berkomitmen mengawal setiap proses ekspor agar memenuhi persyaratan negara tujuan sehingga kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia terus meningkat," ujar Donni.
Baca juga: Lampung Ekspor 3.330 Ton Tapioka ke Tiongkok, Nilai Ekspor Rp 26 Miliar!
Selandia Baru menjadi salah satu pasar potensial bagi Palm Kernel Expeller karena komoditas ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak, terutama untuk sapi perah dan sapi potong.
PKE sendiri merupakan produk samping industri kelapa sawit yang memiliki kandungan serat tinggi dan bernilai ekonomi. Selain Selandia Baru, komoditas ini juga telah dipasarkan ke Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan, China, Filipina, Taiwan, Arab Saudi, dan Singapura.
Kinerja ekspor PKE dari Lampung menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Sepanjang 2024 tercatat 172 kali ekspor dengan total volume sekitar 569 ribu ton senilai Rp2,58 triliun.
Pada 2025, ekspor meningkat menjadi 184 kali dengan volume sekitar 1,34 juta ton dan nilai mencapai Rp3,12 triliun.
Baca juga: Pemprov Lampung Buka Peluang Ekspor Kopi Produk UMKM ke Pasar Amerika Serikat
Sementara sepanjang Januari hingga Juni 2026, telah dilakukan 66 kali ekspor dengan total volume sekitar 513 ribu ton dan nilai sekitar Rp1,17 triliun. Capaian tersebut menunjukkan peluang peningkatan ekspor hingga akhir tahun masih terbuka lebar.
Menurut Donni, meningkatnya kebutuhan dunia terhadap bahan baku pakan alternatif menjadi peluang besar bagi Lampung untuk terus menambah jumlah eksportir.
"Permintaan PKE di pasar internasional terus tumbuh seiring kebutuhan industri peternakan global. Ini menjadi peluang besar bagi Indonesia, khususnya Lampung, untuk memperluas pasar ekspor," katanya.
Dalam setiap proses ekspor, Karantina Lampung melakukan pemeriksaan, pengawasan, dan sertifikasi kesehatan tumbuhan melalui penerbitan Phytosanitary Certificate sebagai jaminan bahwa komoditas telah memenuhi standar internasional dan persyaratan negara tujuan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: