Ilustrasi seekor ayam. (Pexels/Andre Taissin)
LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Komitmen tersebut ditegaskan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela saat membuka kegiatan Training of Trainer (ToT) Investigasi Terkoordinasi Kasus Flu Burung Menggunakan Joint Outbreak Investigation (JOIN) Tool Provinsi Lampung Tahun 2026 di Hotel Swiss-Belhotel Bandar Lampung, Senin (22/6/2026).
Menurut Jihan, pengalaman pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting bahwa kedaruratan kesehatan masyarakat tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga memengaruhi perekonomian, pendidikan, mobilitas masyarakat, ketahanan sosial, hingga kapasitas fiskal pemerintah.
“Covid-19 mengajarkan kepada kita bahwa kecepatan sangat menentukan, data sangat menentukan, dan koordinasi sangat menentukan keberhasilan pengendalian wabah. Keterlambatan deteksi kasus, informasi yang terfragmentasi, dan respons yang tidak terkoordinasi dapat memperpanjang dampak krisis,” ujarnya.
Baca juga: Ketimpangan Gender Lampung Turun, IKG 2025 Capai 0,375, Didorong Perbaikan Kesehatan Reproduksi
Jihan menyatakan flu burung bukan sekadar persoalan kesehatan hewan, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama. Karena itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan harus diterapkan secara nyata.
Menurutnya, ketika muncul sinyal risiko pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara cepat dan terpadu guna mencegah penyebaran penyakit yang lebih luas.
“Ketika sinyal risiko muncul pada unggas maupun lingkungan, investigasi harus dilakukan secara terpadu dan cepat. Karena itu, koordinasi menjadi kunci dalam setiap upaya pencegahan dan pengendalian,” katanya.
Wagub menjelaskan investigasi wabah harus mencakup penelusuran epidemiologis, pengambilan dan pemeriksaan spesimen, identifikasi faktor risiko, komunikasi risiko kepada masyarakat, hingga pengambilan keputusan berbasis bukti.
Seluruh proses tersebut, lanjutnya, membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, tenaga kesehatan, sektor peternakan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga: Dua Pelajar Lampung Lolos Jadi Calon Paskibraka Tingkat Pusat 2026
Menurut Jihan, JOIN Tool menjadi instrumen penting dalam memperkuat investigasi terkoordinasi karena mampu membangun pemahaman situasi yang sama di antara berbagai sektor.
Data yang terkumpul tidak boleh berhenti sebagai laporan sektoral, tetapi harus menjadi dasar respons bersama yang cepat, tepat, dan akuntabel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: