LAMPUNG – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Lampung masih menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Lampung mengalami surplus sebesar US$1,65 miliar sepanjang Januari hingga Mei 2026, meski nilai ekspor secara kumulatif sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, mengatakan capaian tersebut berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Lampung yang dirilis pada 1 Juli 2026.
Selama Januari-Mei 2026, nilai ekspor Lampung mencapai US$2,36 miliar, sedangkan nilai impor sebesar US$715,47 juta.
"Meski nilai ekspor secara kumulatif mengalami penurunan 5,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, struktur perdagangan luar negeri Lampung masih menunjukkan kinerja yang cukup baik. Hal itu terlihat dari neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus sebesar US$1,65 miliar. Artinya, nilai barang yang diekspor Lampung masih jauh lebih besar dibandingkan barang yang diimpor," ujar Ganjar.
Baca juga: Karantina Lampung Lepas Ekspor 14 Ribu Ton PKE ke Selandia Baru Senilai Rp20 Miliar
Surplus Perdagangan Tetap Terjaga
Pada Mei 2026, nilai ekspor Lampung tercatat sebesar US$477,52 juta, sedangkan impor mencapai US$226,21 juta.
Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan Lampung kembali mencatat surplus sebesar US$251,32 juta pada Mei 2026.
Ganjar menilai kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan luar negeri masih memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah sekaligus mencerminkan tingginya permintaan terhadap produk unggulan Lampung di pasar internasional.
Industri Pengolahan Jadi Penopang Ekspor
BPS mencatat sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar ekspor Lampung dengan porsi 70,10 persen dari total ekspor Januari-Mei 2026.
Sementara itu, sektor pertambangan menyumbang 16,35 persen, sedangkan sektor pertanian berkontribusi 13,55 persen.
Baca juga: BPS: Tingkat Hunian Hotel di Lampung Naik Jadi 44,38 Persen pada Mei 2026
Adapun komoditas ekspor terbesar masih didominasi oleh:
- Lemak dan minyak hewan atau nabati (43,46 persen)
- Bahan bakar mineral (16,35 persen)
- Kopi, teh, dan rempah-rempah (13,25 persen)
- Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda Jadi Pasar Utama
Menurut Ganjar, produk-produk unggulan Lampung masih memiliki daya saing yang kuat di pasar global.
Selama Januari-Mei 2026, tiga negara tujuan ekspor terbesar adalah:
- Amerika Serikat: US$344,26 juta
- Tiongkok: US$304,23 juta
- Belanda: US$224,70 juta
Ia menambahkan, meningkatnya ekspor ke Tiongkok menjadi sinyal positif bahwa peluang pasar internasional masih terbuka lebar bagi produk-produk asal Lampung.
"Data ini menunjukkan produk-produk unggulan Lampung masih memiliki daya saing di pasar internasional. Peningkatan ekspor ke Tiongkok menjadi sinyal positif bahwa peluang pasar ekspor Lampung masih terbuka dan perlu terus dimanfaatkan," kata Ganjar.
Impor Naik untuk Dukung Aktivitas Industri
Di sisi lain, nilai impor Lampung secara kumulatif memang turun 26,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun, pada Mei 2026 terjadi peningkatan impor yang didominasi barang nonmigas, terutama barang modal dan kebutuhan industri.
Baca juga: BPS: Kereta Api Masih Jadi Moda Transportasi Favorit Warga Lampung
Ganjar menilai kondisi tersebut merupakan dinamika perdagangan yang wajar karena sebagian besar barang impor digunakan untuk mendukung proses produksi dan investasi.
"Impor tidak selalu bermakna negatif karena sebagian besar digunakan untuk mendukung proses produksi, investasi, dan peningkatan kapasitas industri di daerah. Dengan menjaga keseimbangan antara ekspor dan impor, aktivitas ekonomi Lampung diharapkan terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat," pungkasnya.
Secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan menunjukkan fondasi ekonomi Lampung masih kuat. Kondisi tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan usaha, memperluas lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan, serta memperkuat daya saing produk Lampung di pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BPS