Migran vokasi di SMK N 4 Bandar Lampung. (Pemprov Lampung)
LAMPUNG - Perwakilan Japan Association for Construction Human Resources (JAC), Yugo Okamoto, melakukan peninjauan langsung Kelas Vokasi Migran, di SMKN 4 Bandar Lampung.
JAC datang untuk melihat bagaimana program vokasi migran berjalan serta membahas peluang-peluang kerja sama ke depan.
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan saat ini program ini diikuti SMA dan SMK Negeri. Namun, setelah sosialisasi banyak sekolah swasta yang juga ingin bergabung.
“Kami sedang mengkaji mekanismenya. Dari sisi fiskal, program ini tidak mungkin sepenuhnya dibebankan ke Pemerintah, baik APBN maupun APBD. Karena itu, kami memikirkan pola bagi sekolah swasta yang berminat,” kata Jihan, Jumat (5/12/2025).
Baca juga: Peluang Emas ke Jepang: 2.658 Pelajar Lampung Sudah Ikut Program Migran Vokasi
Jihan menyebutkan sektor konstruksi Jepang membuka kuota sekitar 80 ribu tenaga kerja untuk Indonesia.
“Lampung menyiapkan sebanyak mungkin calon tenaga kerja dengan kualitas dan kualifikasi sesuai standar mereka. Karena itu, hari ini kami mendiskusikan apa saja kebutuhan mereka,” ujarnya.
Ia bersyukur JAC membuka peluang kerja sama, termasuk kemungkinan bantuan instrumen dan peralatan untuk sekolah-sekolah vokasi migran.
Dalam kesempatan yang sama, Perwakilan JAC, Yugo Okamoto, menyampaikan salah satu syarat yang diprioritaskan bagi pekerja untuk bekerja di Jepang yaitu kemampuan berbahasa Jepang.
"Kedua adalah keahlian. Keahlian ini bergantung pada proses dan jenis pekerjaan yang akan digeluti calon pekerja," kata dia.
Baca juga: Lampung Jadi Percontohan Nasional Program Kelas Migran Vokasi SMK/SMA, 8.500 Siswa Tertarik
Saat ini, pihaknya tengah mengupayakan agar setiap perusahaan di Jepang dapat memberikan dukungan berupa pendidikan langsung kepada calon pekerja dari Indonesia.
"Saya berharap semakin banyak warga negara Indonesia yang berminat bekerja di sektor konstruksi di Jepang sehingga dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dan masyarakat di Jepang," katanya.
Secara keseluruhan, jelas Yugo, Jepang membutuhkan banyak tenaga kerja. Di bidang konstruksi, kebutuhan tenaga kerja mencapai sekitar 80.000 orang. Saat ini komposisi pekerja di Jepang berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan