Edukasi pemanfaatan jamur tiram menjadi produk Nutrasetika. (Itera Lampung)
LAMPUNG - Sebagai upaya pencegahan stunting, dosen Program Studi Farmasi Institut Teknologi Sumatera (Itera) berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Rekognisi di Desa Banjar Agung, Lampung Selatan, melakukan edukasi pemanfaatan jamur tiram menjadi produk nutrasetika untuk pencegahan stunting.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dosen yang terdiri dari apt. Untia Kartika Sari R, S.Farm., M.Farm., apt. Mubarika Sekarsari Yusuf, S.Farm., M.Farm., dan apt. Juwana Janu, M.Farm.
Dosen Prodi Farmasi Itera, Untia Kartika Sari R, mengatakan data Dinas Kesehatan Lampung Selatan pada 2022, menunjukkan prevalensi stunting di Desa Banjar Agung mencapai 21,3 persen, lebih tinggi dari ambang batas nasional sebesar 14 persen.
Rendahnya pemahaman masyarakat tentang gizi seimbang dan minimnya variasi pangan fungsional menjadi faktor penyebab utama dari stunting masih tinggi di desa Banjar Agung, Lampung Selatan.
”Kegiatan PKM ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman gizi yang seimbang dan menambah pengetahuan bagi warga desa Banjar Agung khususnya kader posyandu dan ibu yang memiliki balita dan anak terkait kandungan gizi jamur tiram yang ternyata bisa diolah menjadi produk nutrasetika,” kata Untia, Selasa (30/9/2025).
Baca juga: Prodi Rekayasa Kehutanan Itera Hadirkan Inovasi Mesin Pengolahan Kemiri untuk Petani
Dia menjelaskan kandungan gizi jamur tiram dapat membantu mencegah stunting karena mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta mencegah anemia.
Dalam sesi edukasi, apt. Juwana Janu, M.Farm., menjelaskan bahwa jamur tiram (Pleurotus ostreatus) kaya protein nabati, serat, vitamin B kompleks, zat besi, kalsium, serta mineral penting lain.
"Kandungan gizi jamur tiram dapat membantu mencegah stunting karena mendukung pertumbuhan tulang, perkembangan otak, serta mencegah anemia," jelasnya.
Sementara apt. Mubarika Sekarsari Yusuf, S.Farm., M.Farm., menambahkan dalam pemanfaatan jamur sebagai inovasi pangan fungsional, dosen Farmasi Itera bersama mahasiswa KKN Rekognisi Desa Banjar Agung memperkenalkan dua olahan pangan yaitu Nugget dan Pepes Jamur Tiram.
"Nugget jamur tiram, dipilih menjadi inovasi pangan fungsional karena nugget disukai anak-anak karena rasanya yang gurih, tekstur lembut dan renyah serta bentuknya yang familiar," ujarnya.
Baca juga: Itera Kenalkan Biofilter IoT di Lampung Selatan Wujudkan Budidaya Ikan Secara Modern
"Sementara pepes jamur tiram, yang diolah dengan cara dikukus yang diharapkan dapat menjaga kandungan protein, serat, vitamin dan mineral yang terkandung di dalam jamur tiram," imbuhnya.
Melalui kegiatan PKM ini, tim dosen Farmasi Itera dan Mahasiswa KKN Rekognisi berharap masyarakat desa Banjar Agung, Lampung Selatan, mampu mengadopsi pangan lokal bernilai gizi tinggi dari jamur tiram dalam pola konsumsi makanan sehari-hari di dalam keluarga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan