Itera Kenalkan Biofilter IoT di Lampung Selatan untuk budidaya ikan secara modern. (Itera Lampung)
LAMPUNG - Institut Teknologi Sumatera (Itera) mendorong penerapan teknologi tepat guna di sektor perikanan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Terbaru, Itera memperkenalkan inovasi sistem FIBER (Fishery Biofilter with IoT-Based Regulation) dan budidaya maggot sebagai solusi modern untuk budidaya ikan lele di Desa Marga Agung, Lampung Selatan.
Program ini merupakan bagian dari Pengabdian berbasis Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dengan Koperasi Perikanan Mina Agung Lestari sebagai mitra utama.
Sistem FIBER yang diperkenalkan berbasis Internet of Things (IoT) dan dirancang untuk memantau kualitas air secara real-time, mengatur otomatisasi perangkat kolam, serta mendokumentasikan pertumbuhan ikan dan pemberian pakan.
“Sistem FIBER mampu membaca parameter penting seperti pH dan kadar amonia air kolam secara langsung, mengontrol pompa dan blower secara otomatis, serta mencatat data pemberian pakan, baik berupa pelet maupun maggot,” kata Ketua Tim PKM, Arysca Wisnu Satria, Selasa (30/9/2025).
Baca juga: Mahasiswa Itera Latih Komunitas Lokal Desain Digital untuk Medukung Potensi Wisata Pahawang
Teknologi biofilter yang terintegrasi dalam sistem ini juga dirancang untuk menyaring sisa pakan dan limbah organik di kolam, menciptakan ekosistem perairan yang lebih sehat dan efisien bagi pertumbuhan ikan.
Sistem FIBER mampu membaca parameter penting seperti pH dan kadar amonia air kolam secara langsung, mengontrol pompa dan blower secara otomatis, serta mencatat data pemberian pakan, baik berupa pelet maupun maggot
Dalam kegiatan tersebut, tim Itera juga memperkenalkan budidaya maggot (Black Soldier Fly/BSF) sebagai alternatif pakan ikan yang murah dan ramah lingkungan. Maggot dikenal memiliki kandungan protein tinggi yang mendukung pertumbuhan ikan, sekaligus dapat menekan biaya produksi pakan secara signifikan.
Perwakilan Dinas Perikanan, Heni Hanifah, menyampaikan bahwa inovasi pakan alternatif seperti maggot dapat menjadi solusi nyata untuk mengurangi biaya produksi serta mendorong kemandirian pakan lokal di kalangan pembudidaya ikan.
“Penerapan teknologi seperti FIBER ini bukan hanya soal otomasi, tapi juga soal keberlanjutan dan peningkatan daya saing sektor perikanan kita,” ujar Arysca.
“Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk kesejahteraan, bukan untuk kerusakan," imbuhnya.
Melalui pengenalan sistem FIBER dan budidaya maggot, program ini diharapkan menjadi langkah awal menuju kedaulatan pangan nasional dan kesejahteraan nelayan serta petani lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan