Srawung Seni Sawah di Kabupaten Lampung Selatan. (Instagram/wahyuramadhansafitra)
LAMPUNG - Provinsi Lampung kaya akan keragaman seni, budaya dan pariwisatanya. Salah satunya di Kabupaten Lampung Selatan terdapat sebuah kegiatan seni budaya yang menggabungkan alam sekitar.
Adalah Srawung Seni Sawah, sebuah gerakan seni dan budaya yang lahir dari masyarakat desa dengan tujuan menghidupkan kembali kecintaan terhadap lahan pertanian melalui pendekatan kreatif.
Digagas pertama kali pada 2020 oleh seniman dan pegiat budaya desa, kegiatan ini menggabungkan unsur pertanian, seni pertunjukan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu ruang ekspresi yang unik yakni sawah.
Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan kegiatan Srawung Seni Sawah sebagai bagian dari program agro eduwisata di wilayahnya.
Dukungan ini disampaikan saat menerima audiensi komunitas Srawung Seni Sawah di Aula Sebuku, Rumah Dinas Bupati Lampung Selatan.
Audiensi tersebut menjadi momentum strategis bagi pengembangan potensi seni dan budaya berbasis pertanian di desa-desa Lampung Selatan.
Bupati Egi menyebut bahwa inisiatif seperti ini layak didorong menjadi festival budaya rakyat yang berkelanjutan, bahkan bisa menjadi daya tarik wisata baru seperti yang berhasil dilakukan daerah lain.
“Lampung Selatan ini multikultur dan kaya akan keberagaman budaya. Ketika kegiatan seperti ini lahir dari inisiatif masyarakat, maka sudah saatnya pemerintah hadir untuk mengangkatnya ke level yang lebih tinggi,” kata Bupati Egi, Sabtu (2/8/2025).
Baca juga: 21 Pemuda Asal Australia Akan Magang dan Tinggal di Desa Lampung Selatan
Dia menyatakan bahwa selama masa kepemimpinannya, pembangunan destinasi wisata berbasis pertanian yang ramah lingkungan, inklusif, dan berdaya saing akan terus digencarkan.
Ia menginginkan setiap desa memiliki satu kegiatan unggulan yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan membangkitkan ekonomi lokal.
Sementara itu, Agus Gunawan, penggagas Srawung Seni Sawah, menjelaskan bahwa kegiatan ini pertama kali digagas pada 2020 sebagai bentuk keprihatinan terhadap minimnya aktivitas kreatif masyarakat desa dalam memanfaatkan lahan pertanian.
“Kami ingin masyarakat mencintai lahan pertanian lagi. Maka kami adakan kegiatan seperti menari di sawah, agar bertani jadi kegiatan yang membanggakan dan menyenangkan,” ungkap Agus.
Baca juga: Keren! Di Wilayah Terpencil Pulau Sebesi Lampung Kini ada Ambulans Laut
Ia berharap dukungan pemerintah dapat memperluas cakupan kegiatan ini ke lebih banyak desa, mengingat keterbatasan sumber daya untuk melanjutkan program secara swadaya.
Audiensi diakhiri dengan komitmen bersama untuk menjadikan Srawung Seni Sawah sebagai program unggulan yang menyatukan nilai seni, budaya, pertanian, dan ekonomi rakyat secara berkelanjutan di Bumi Khagom Mufakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan