Fakultas Sains Itera Rilis Film Dokumenter Nafas Krakatau, Hasil Ekspedisi Ilmiah ke Anak Krakatau
LAMPUNG - Fakultas Sains Institut Teknologi Sumatera (Itera) merilis film dokumenter berjudul Nafas Krakatau. Film ini merupakan hasil ekspedisi ilmiah tim Itera Scientific Expedition and Exploration (I-SEE) yang meneliti Sumber daya alam yang ada di Gunung Anak Krakatau.
Ketua Tim I-SEE 2025, Novriadi, menjelaskan film tersebut merekam perjalanan ilmiah tim ekspedisi yang terdiri dari sekitar 50 orang dosen, laboran, dan mahasiswa. Penelitian yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Itera ini, difokuskan pada tema mitigasi dan konservasi di kawasan Gunung Anak Krakatau.
“Fokus kajian kami meliputi gas vulkanik, kajian geologi dan terumbu karang, serta aspek sosial-ekologis masyarakat di sekitar kawasan Krakatau. Sejumlah hasil penelitian masih dalam proses publikasi di jurnal ilmiah sebagai upaya memperkenalkan temuan tersebut kepada masyarakat luas,” ujar Novriadi dalam keterangannya dilansir dari laman Itera, Jumat (13/3/2026).
Dalam film dokumenter ini ditampilkan beragam kajian ilmiah, antara lain penelitian atmosfer, tumbuhan pionir pascaerupsi, analisis kualitas air dan permukaan tanah vulkanik, pemetaan batimetri perairan, kondisi lingkungan bawah laut, aktivitas spons laut, hingga dinamika sosial masyarakat di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Baca juga: Itera Kini Punya Fasilitas Lapangan Mini Soccer, Dukung Prestasi Olahraga Mahasiswa
Film tersebut juga memuat referensi karya sastra pribumi Lampung yang menggambarkan situasi masyarakat Kalianda saat peristiwa letusan Krakatau. Selain menampilkan proses penelitian di lapangan, film ini juga menghadirkan momen langka berupa peristiwa gerhana bulan total yang berhasil diabadikan oleh tim ekspedisi selama kegiatan berlangsung.
Rektor Itera Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha menyampaikan apresiasi atas karya dokumenter tersebut yang dinilai sebagai capaian monumental bagi Itera. Menurutnya, ekspedisi dan produksi film ilmiah seperti ini menunjukkan pesatnya perkembangan riset di Itera.
“Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, progres penelitian dan produksi film ini sangat baik dan layak untuk terus dikembangkan. Saat ini belum banyak perguruan tinggi yang memiliki agenda ekspedisi ilmiah secara khusus ke Gunung Anak Krakatau,” ujar Rektor.
Rektor menambahkan, Gunung Anak Krakatau merupakan pulau vulkanik yang terus tumbuh dan memiliki potensi besar untuk dikaji dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi.
Baca juga: PARFI Lampung Produksi Film Tentang Edukasi Bahaya Narkoba
Kajian tersebut penting karena penelitian langsung terhadap aktivitas dan dampak letusan gunung tersebut masih terbatas. “Itera memiliki pusat mitigasi kebencanaan. Hal ini perlu disinergikan agar dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait antisipasi bencana,” jelasnya
Sementara itu, Dekan Fakultas Sains Itera Dr. Ikah Ning P. Permanasari menjelaskan gagasan kegiatan ekspedisi ini terinspirasi dari Sakurajima Volcano Observatory di Kyoto, Jepang, yang menjadi pusat penelitian Gunung Sakurajima.
“Dari segi posisi dan karakteristik, Gunung Sakurajima memiliki kemiripan dengan kondisi di Lampung yang memiliki Gunung Anak Krakatau. Saat ini data terbaru mengenai aktivitas Anak Krakatau masih terbatas, sehingga Fakultas Sains berupaya melakukan kajian untuk menggali potensi keilmuan dari gunung tersebut,” ujar Ikah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan