LAMPUNG - PT Hutama Karya selaku pengelola Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) mencatat hingga Juni 2025 terdapat 792 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di 23 Rest Area Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang tersebar di enam provinsi.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, mengatakan bahwa komitmen ini merefleksikan visi perusahaan dalam mewujudkan infrastruktur yang tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat lokal.
"Rest Area JTTS menjadi manifestasi nyata dari amanah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN yang mewajibkan kami melakukan pemberdayaan dan membangun kemitraan dengan UMKM di mana bagi Hutama Karya kemitraan ini bukan sekadar program tanggung jawab sosial, melainkan komitmen strategis dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Adjib dalam keterangannya, Rabu (13/8/2025).
Adjib menjelaskan bahwa komitmen tersebut diperkuat oleh Peraturan Menteri PUPR Nomor 28 Tahun 2021 yang mewajibkan alokasi minimal 30 persen area komersial untuk UMKM dan 70 persen untuk produk lokal.
"Saat ini Hutama Karya bahkan melampaui ketentuan tersebut dengan mengalokasikan 56,47 m2 dari total 98,86 m2 area komersial khusus untuk UMKM, atau setara 57,1 persen dari total area komersial,” imbuh Adjib.
Baca juga: Pengelola Tol Lampung Gencarkan Pengolahan Limbah Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai
Menurut dia, Rest Area di JTTS telah menciptakan dampak ekonomi signifikan. Dari 990 kapasitas tenant UMKM yang tersedia, tingkat okupansi bervariasi dengan Rest Area KM 234 Jalur A di Tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang - Kayu Agung (Terpeka) mencatat okupansi tertinggi 100 persen berkat lokasi strategis di titik tengah perjalanan.
“Yang paling membanggakan adalah transformasi pedagang pinggir jalan menjadi pelaku usaha formal dengan tempat yang layak. Mereka yang sebelumnya berjualan di jalan nasional kini memiliki kesempatan mengembangkan usaha dengan fasilitas yang memadai dan akses pasar yang lebih luas di rest area,” terang Adjib.
Dia menerangkan Hutama Karya tidak hanya menyediakan tempat, tetapi juga melakukan pembinaan berkelanjutan melalui program "JTTS Berdaya".
Sejak 2022, sebanyak 75 UMKM telah mengikuti pelatihan komprehensif yang meliputi mindset kewirausahaan, perhitungan harga pokok produksi, alternatif permodalan, penyusunan proposal bisnis, diferensiasi produk, dan digitalisasi pembayaran.
“Hasil yang terukur terlihat dari belasan atau sekitar 35 persen tenant di Rest Area 215B Tol Terpeka yang telah mengadopsi sistem pembayaran digital QRIS, transfer bank, dan BRILink. Atas transformasi pasca pelatihan ini, belasan tenant UKM tersebut mengalami peningkatan pendapatan 10-20 persen,” ujar Adjib.
Baca juga: Puluhan Ribu Pohon Trembesi Akan Hijaukan Sepanjang Ruas Jalan Tol Lampung
Selain itu, menghadapi era ekonomi digital, Hutama Karya saat ini mengembangkan strategi digitalisasi bertahap dengan target utama implementasi aplikasi Point of Sale (POS) yang memudahkan pencatatan keuangan dan penyusunan laporan usaha.
“Kami menyadari tantangan digitalisasi bagi UMKM mikro, terutama terkait biaya operasional. Karena itu, pendampingan dilakukan secara bertahap dengan alternatif seperti BRILink sebagai langkah awal,” imbuh Adjib.
Rumah Makan Sinar di Rest Area KM 215B yang dikelola Ibu Siti Nakoh menjadi contoh sukses pemberdayaan UMKM.
Melalui pendampingan pencatatan keuangan sederhana, usahanya berkembang pesat hingga mampu menyewa satu tenant tambahan di rest area yang sama.
“Program pendampingan ini membuktikan bahwa Hutama Karya tidak hanya memberikan tempat berjualan, tetapi juga meningkatkan kapabilitas kami sebagai pelaku UMKM secara berkelanjutan,” tuturnya.
Rest Area JTTS juga menjadi showcase produk khas Nusantara. Masakan Padang Siang Malam dan masakan Jawa Timur RM Ngawi di Rest Area Tol Terpeka, serta Tahu Sumedang di Rest Area Tol Indralaya - Prabumulih (Indraprabu) menjadi primadona pengunjung.
Kerja sama dengan Dinas Koperasi, UMKM, dan Dekranasda setempat memastikan produk lokal mendapat ruang yang memadai.
Seiring dengan tema Hari UMKM Nasional 2025, Hutama Karya berkomitmen menjadikan Rest Area JTTS sebagai katalis UMKM berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
Program diferensiasi produk dan sertifikasi legalitas (PIRT, halal, dan higienitas) menjadi fokus untuk meningkatkan daya saing dan kepercayaan konsumen.
“Rest Area JTTS akan terus menjadi ekosistem yang mendukung UMKM naik kelas. Kami yakin dengan kolaborasi semua pihak, UMKM Indonesia akan semakin berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan