Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 03 MARET 2026 • 14:30 WIB

Mahasiswa Itera Juara 1 Internasional Desain Kota Rendah Karbon Asia dengan Gagasan Kota Terapung

Mahasiswa Itera Juara 1 Internasional Desain Kota Rendah Karbon Asia dengan Gagasan Kota TerapungDua mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera), Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir. (ITERA)

LAMPUNG - Dua mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera), Wahyu Sony Ardiyansah dan Muhammad Choir, meraih juara pertama dalam The International Student Design Competition on Low Carbon Cities in Asia yang diselenggarakan Asian Institute of Low Carbon Design (AILCD), Kitakyushu, Jepang.

Dalam kompetisi tersebut, mereka bersaing dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di sejumlah negara. Tim Itera berhasil mengungguli tim dari Zhejiang University, Tiongkok yang meraih posisi juara dua dan tiga.

Kemenangan tersebut diraih melalui gagasan berjudul “Anti Deco: A City That Exists in Time, Not in Space”, yang menawarkan konsep kota terapung adaptif sebagai respons terhadap krisis iklim dan kenaikan muka air laut.

Dalam kompetisi itu, peserta diminta merancang proyeksi Kota Kitakyushu, Jepang, 100 tahun mendatang dengan pendekatan kota rendah karbon.

Baca juga: Empat Mahasiswa Arsitektur Itera Terpilih Ikuti Konferensi Internasional AILCD di Jepang

Wahyu menjelaskan, timnya mengkaji data perubahan iklim dan proyeksi kenaikan permukaan laut, lalu mengembangkan skenario ekstrem namun relevan untuk tahun 2125.

“Kami membayangkan kondisi ketika kota tidak lagi bisa bergantung pada daratan yang stabil. Dari situ lahir gagasan kota terapung yang adaptif,” ujarnya.

Konsep yang ditawarkan berupa sistem urban modular yang dapat bergerak menyesuaikan kondisi lingkungan, naik ke permukaan saat situasi stabil dan turun ke lapisan laut yang lebih aman ketika terjadi gangguan.

Menurut Wahyu, kota masa depan tidak lagi dirancang untuk melawan perubahan, melainkan hidup berdampingan dengan ketidakpastian.

Baca juga: Observatorium Itera Akan Amati Gerhana Bulan Total 3 Maret, Masyarakat Bisa Pantau via Live YouTube

Sementara Muhammad Choir menambahkan, proyek tersebut tidak sekadar membayangkan bentuk fisik kota, tetapi menggeser cara pandang terhadap arsitektur sebagai entitas yang dinamis.

“Arsitektur bukan lagi sesuatu yang statis, melainkan sistem yang hidup dan bergerak dalam waktu,” kata Choir.

Ia menilai gagasan tersebut juga relevan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, penurunan tanah di kawasan pesisir, dan dampak perubahan iklim.

Penerapannya, kata dia, tidak harus dalam bentuk kota terapung skala besar, tetapi dapat dimulai melalui infrastruktur pesisir yang fleksibel, hunian terapung di wilayah rawan banjir, hingga pemanfaatan energi laut sebagai sumber energi alternatif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mahasiswa Itera Juara 1 Internasional Desain Kota Rendah Karbon Asia dengan Gagasan Kota Terapung

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!