LAMPUNG - Manajemen Tol Bakauheni–Terbanggi Besar (Bakter) bergerak cepat menindaklanjuti laporan dugaan pelemparan batu terhadap kendaraan yang melintas di ruas tol yang terjadi pada Jumat (27/2/2026) sekira pukul 23.00 WIB.
Dalam waktu kurang dari 1x24 jam sejak kejadian dilaporkan, tim berhasil mengidentifikasi dan mengamankan sejumlah remaja yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut pada Sabtu (28/2/2026).
Melalui koordinasi intensif bersama personel bawah kendali operasi (BKO) dari Korem 043/Garuda Hitam, manajemen tol bakter melakukan observasi bersama serta penebalan pengamanan di titik yang teridentifikasi.
Dari hasil pemantauan, petugas mendapati sekelompok remaja berada di atas jembatan penyebrangan orang dan setelah melakukan pengamatan, terdengar benda keras dijatuhkan ke dalam jalan tol, sehingga petugas melakukan pengejaran, dua orang berhasil diamankan untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut.
Berdasarkan hasil pengembangan, didapati sekitar 10 orang para terduga masih berstatus pelajar dan berada dalam kategori usia remaja.
Atas dasar tersebut, manajemen Tol Bakter memutuskan untuk mengedepankan pendekatan pembinaan dan edukasi dengan melibatkan orang tua.
Manager Public Affairs Hakaaston Ruas Bakter, M. Alkautsar, mengatakan keselamatan dan keamanan pengguna jalan tol merupakan prioritas utama. Namun demikian, dalam kasus yang melibatkan anak-anak, pendekatan yang digunakan harus bersifat mendidik untuk membangun kesadaran.
“Karena semuanya masih berstatus pelajar, kami memanggil dan menghadirkan orang tua untuk bersama-sama melakukan pembinaan. Kami berikan edukasi mengenai risiko dan dampak hukum dari tindakan tersebut, serta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya. Kami ingin mereka memahami bahwa apa yang dilakukan sangat membahayakan bagi pengguna jalan dan mencoreng citra wilayah di sektor keamanan,” kata Alkautsar.
Baca juga: Pengelola Tol Lampung Gelar Operasi Microsleep saat momen Nataru
Sebagai bagian dari pendekatan restoratif, Tol Bakter juga memberikan predikat simbolis kepada para remaja tersebut sebagai Pelopor Keselamatan dan Keamanan Jalan Tol di lingkungan sekitarnya.
Predikat ini diberikan dengan harapan mereka tidak mengulangi perbuatannya , melainkan justru menjadi penggerak kesadaran di kalangan teman sebaya untuk menjaga fasilitas umum dan keselamatan pengguna jalan.
“Anak-anak ini bukan untuk diberi stigma, tetapi untuk diarahkan. Kami ingin mereka menjadi agen perubahan di lingkungannya. Jika sebelumnya mereka berada di titik yang berpotensi membahayakan, maka ke depan mereka harus menjadi yang terdepan dalam menjaga keselamatan dan keamanan jalan tol," jelasnya.
Dia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan jalan tol. Menurutnya, peran aktif warga di sekitar ruas tol sangat menentukan terciptanya lingkungan yang aman dan tertib.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan