Gubernur Lampung saat menyapa siswa di salah satu SMA di Bandar Lampung. (Diskominfotik Lampung)
LAMPUNG - Sebuah fenomena langka untuk pertama kalinya tercatat di Provinsi Lampung. Kelompok pendidikan justru mengalami deflasi sangat dalam hingga 15,10 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, indeks harga di sektor pendidikan turun dari 108,59 pada Agustus 2024 menjadi 92,19 pada Agustus 2025.
Kondisi ini terjadi salah satunya dipicu oleh kebijakan penghapusan uang komite sekolah yang dilakukan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal.
Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo menilai kebijakan Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menghapus uang komite sekolah menjadi faktor utama deflasi pendidikan di Lampung.
Secara umum, inflasi tahun ke tahun (y-on-y) Lampung pada Agustus 2025 hanya mencapai 1,05 persen, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,33 persen.
Inflasi Lampung masih disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kenaikan 4,12 persen, terutama dari komoditas bawang merah, beras, dan tomat.
"Namun, yang paling mengejutkan adalah peran kelompok pendidikan sebagai penekan inflasi daerah," kata Ganjar dalam keterangannya, Kamis (4/9/2025).
Baca juga: BPS: Lampung Alami Deflasi 1,47 Persen pada Agustus 2025
Dari empat subkelompok, dua di antaranya mengalami deflasi, yakni pendidikan dasar dan anak usia dini (1,77 persen) serta pendidikan menengah yang turun tajam hingga 51,23 persen.
"Sebaliknya, pendidikan tinggi justru meningkat 11,95 persen dan pendidikan lainnya naik 4,30 persen. Secara keseluruhan, kelompok pendidikan menyumbang deflasi (y-on-y) sebesar 0,98 persen, terutama dipicu penurunan biaya pada jenjang SMA/SMK, SMP, dan SD," jelasnya.
Menurutnya, fenomena ini semakin kontras bila dibandingkan dengan kondisi nasional. Pada Agustus 2025, kelompok pendidikan di tingkat nasional justru mencatat inflasi (y-on-y) sebesar 1,43 persen, dengan tiga subkelompok mengalami kenaikan.
"Hanya pendidikan menengah yang mengalami deflasi tipis sebesar 0,40 persen. Artinya, ketika biaya pendidikan meningkat di tingkat nasional, Lampung justru bergerak berlawanan arus yaitu mengalami deflasi tajam," ujarnya.
Baca juga: Neraca Perdagangan Lampung Surplus US$ 418,39 juta
Ganjar menerangkan penurunan harga besar kemungkinan dipengaruhi oleh optimalisasi subsidi pendidikan, seperti BOS, beasiswa daerah, serta program penghapusan iuran sekolah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan