LAMPUNG - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Tari Universitas Lampung (Unila) menggelar pementasan koreografi lingkungan bertajuk “LEMPUNG” di Rumah Produksi Erri Art Gerabah, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, pada 12 Juni 2026.
Pementasan ini merupakan ujian akhir Mata Kuliah Koreografi Non-Tradisi sekaligus menjadi ruang eksplorasi seni yang mengangkat budaya lokal melalui representasi proses pembuatan gerabah.
Berbeda dari pertunjukan tari pada umumnya, karya “LEMPUNG” dipentaskan langsung di area produksi gerabah. Berbagai sudut rumah produksi dimanfaatkan sebagai ruang pertunjukan sehingga penonton dapat merasakan secara langsung suasana kerja para pengrajin dan interaksi mereka dengan tanah liat sebagai bahan utama pembuatan gerabah.
Representasi Proses Pembuatan Gerabah dalam Gerak Tari
Karya “LEMPUNG” mengusung tema representasi dengan menghadirkan kembali aktivitas para pengrajin dalam proses pembuatan gerabah melalui bahasa gerak.
Sebanyak sembilan penari terlibat dalam pertunjukan ini. Enam penari berperan sebagai representasi tanah liat, sementara tiga lainnya memerankan sosok pengrajin gerabah.
Melalui koreografi yang terinspirasi dari proses pengolahan tanah hingga pembentukan gerabah, para penari menggambarkan hubungan erat antara manusia, alam, dan tradisi kerajinan yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Mahasiswa Pendidikan Tari Unila Hadirkan Koreografi “Kemplora”, Angkat Narasi Pembuatan Kemplang
Padukan Musik Tradisional dan Suara Alam Produksi Gerabah
Atmosfer pertunjukan semakin kuat dengan dukungan musik live yang memadukan instrumen tradisional dan modern, seperti udu pot, suling, dan karinding.
Keunikan lainnya terletak pada penggunaan bunyi-bunyian alami dari lingkungan rumah produksi sebagai bagian dari komposisi musik. Suara mesin penggiling tanah, injakan kaki di atas tanah liat, hingga bunyi gerabah dimanfaatkan untuk membangun suasana artistik yang autentik.
Pendekatan ini memperkuat keterhubungan antara karya tari dengan ruang pertunjukan sekaligus menghadirkan pengalaman yang lebih imersif bagi penonton.
Baca juga: Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung: Wisata Edukasi Satwa Lengkap
Upaya Melestarikan Budaya Gerabah Lampung
Penciptaan karya ini mendapat pendampingan dari tim dosen pengampu Mata Kuliah Koreografi Non-Tradisi, yaitu Goesthy Ayu Mariana Devi Lestari, Nabilla Kurnia Adzan, Lora Gustia Ningsih, dan Ricky Warman Putra.
Tim koreografer yang terdiri dari Tia Melyana, Sinta Sahliana, Nazwa Mutia Tanjung, dan Shefia menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari keinginan untuk mengangkat identitas budaya lokal yang masih bertahan hingga saat ini.
Menurut mereka, Desa Negara Ratu dikenal sebagai salah satu sentra produksi gerabah terbesar di Provinsi Lampung.
Baca juga: Ada Pentas Seni Budaya Helau di Lampung Selatan, Digelar Setiap Hari Jumat
Melalui simbolisasi gerak tangan memutar yang mendominasi pertunjukan, para koreografer berupaya menggambarkan ketekunan, kesabaran, dan proses panjang yang harus dilalui dalam pembuatan gerabah.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pembuatan gerabah membutuhkan proses, waktu, tenaga, dan ketelitian yang tinggi. Melalui karya ini, kami berupaya menghadirkan kembali nilai-nilai kerja keras para pengrajin dalam bentuk bahasa gerak yang dapat dinikmati dan dipahami masyarakat,” ujar tim koreografer.
Melalui pementasan “LEMPUNG”, mahasiswa Pendidikan Tari Unila menunjukkan bahwa seni tari non-tradisi dapat menjadi media pelestarian budaya sekaligus sarana edukasi kepada masyarakat.
Karya ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para pengrajin gerabah, tetapi juga upaya memperkenalkan kembali eksistensi tradisi gerabah Lampung Selatan melalui pendekatan seni yang kreatif, edukatif, dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan