Mahasiswa Pendidikan Tari Unila Hadirkan Koreografi “Kemplora”, Angkat Narasi Pembuatan Kemplang
LAMPUNG - Sebanyak 18 penari, 4 koreografer, dan 4 pemusik dari Program Studi Pendidikan Tari sukses menggelar ujian akhir mata kuliah Koreografi Daerah dan Kontemporer melalui perhelatan karya koreografi lingkungan bertajuk “Kemplora”.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (7/6/2026) lalu di Jalan Ikan Julung, Kelurahan Bumiwaras, Kecamatan Bumi Waras, Kota Bandar Lampung.
“Kemplora” merupakan hasil dari proses riset kreatif yang telah dilaksanakan sejak awal semester. Karya ini menonjolkan pendekatan koreografi lingkungan yang memanfaatkan ruang publik dan aktivitas masyarakat sebagai sumber inspirasi utama, dengan mengangkat fenomena sosial serta kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Lampung.
Ketua pelaksana kegiatan menjelaskan penamaan karya ini merefleksikan kedekatan mahasiswa dengan realitas keseharian warga.
Salah satu suguhan utama dalam “Kemplora” bahkan mengangkat narasi proses pembuatan kemplang—makanan khas daerah—yang diperoleh melalui interaksi dan observasi langsung mahasiswa dengan masyarakat setempat.
Baca juga: Srawung Seni Sawah: Menghidupkan Budaya dan Wisata dari Tengah Lahan Pertanian
Perhelatan yang melibatkan lebih dari 10 anggota tim produksi ini didukung penuh oleh mahasiswa angkatan 2023, alumni, serta seniman setempat.
Meski menghadapi tantangan berupa penyesuaian konsep artistik dengan kondisi lapangan serta proses pendekatan intensif kepada tokoh adat, seluruh dinamika tersebut berhasil diatasi melalui komunikasi yang terjalin dengan baik.
Respons masyarakat terhadap pementasan ini terbilang sangat positif. Warga tidak hanya memberikan ruang dan dukungan, tetapi juga berpartisipasi aktif dengan membagikan informasi mengenai tradisi dan aktivitas lingkungan, yang kemudian memperkaya kedalaman artistik karya yang ditampilkan.
Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah dan Asal-Usul Terbentuknya Provinsi Lampung
Melalui “Kemplora”, mahasiswa berharap masyarakat semakin mengenal dan mengapresiasi seni tari bukan sekadar pertunjukan panggung, melainkan sebagai media ekspresi, edukasi, dan dokumentasi budaya.
“Kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia akademik dengan realitas sosial di masyarakat. Kami berharap kolaborasi antara mahasiswa, seniman, dan masyarakat ini dapat terus dikembangkan ke depannya sebagai upaya nyata dalam melestarikan sekaligus mengembangkan seni budaya di Lampung,” demikian keterangan dilansir dari laman resmi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila.
Program Studi Pendidikan Tari berkomitmen untuk mencetak pendidik dan seniman tari yang memiliki kepekaan riset terhadap fenomena sosial serta mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam karya koreografi kontemporer.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: FKIP Unila